PROBLEMATIKA PENEGAKAN IZIN LINGKUNGAN DALAM PENCEGAHAN PENCEMARAN INDUSTRI DI INDONESIA
DOI:
https://doi.org/10.69714/qwkdf122Keywords:
environmental permits, environmental pollution, environmental law enforcement, sustainable development, IndonesiaAbstract
Industrial development in Indonesia has had a positive impact on economic growth and national development, but on the other hand, it has also given rise to various forms of environmental pollution due to poor industrial waste management. Air, water, and soil pollution from industrial activities show that environmental protection still faces various challenges, particularly in environmental oversight and law enforcement. This study aims to analyze environmental permit regulations as an instrument for preventing pollution from industrial activities in Indonesia, analyze issues in environmental permit enforcement, and analyze efforts to optimize environmental permit enforcement in support of the Sustainable Development Goals (SDGs). This study uses normative legal research methods with legislative and conceptual approaches. The results show that environmental permits have a preventive function in preventing environmental pollution through the AMDAL (Environmental Impact Assessment) and UKL-UPL (Environmental Management and Monitoring) mechanisms. However, the effectiveness of environmental permit enforcement still faces various obstacles, such as weak oversight, low business compliance, inconsistent application of administrative sanctions, low public participation, and changes in licensing policies after the Job Creation Law that could potentially weaken environmental protection functions. Therefore, it is necessary to strengthen environmental oversight, implement strict sanctions, increase transparency in licensing, and optimize public participation to realize sustainable development and effective environmental protection.
References
[1] Akib, M. (2015). Penegakan Hukum Lingkungan dalam Perspektif Holistik-Ekologis. Bandar Lampung, Indonesia: Universitas Lampung.
[2] Arifin, R., and A. Niravita (2025). “Editorial Introduction: Contemporary Issues on Advocacy and Legal Services,” Indonesian Journal of Advocacy and Legal Services, vol. 7, no. 2, pp. 292–294.
[3] W. N. Bhamatika, N. N. Hidayat, S. N. Putri, A. K. Dewi, U. Kamal, and M. A. H. Fikri (2025). “Dari Regulasi ke Implementasi: Problematika Pengawasan dalam Menghadapi Ancaman Lingkungan Hidup di Indonesia,” PESHUM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, vol. 4, no. 4.
[4] Erwin, M. (2019). Hukum Lingkungan dalam Sistem Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia. Bandung, Indonesia: Refika Aditama.
[5] Fikri, M. A. H., Y. D. Novita, and M. I. Gusthomi (2023). “Development of the national food system through digitalization and downstreaming to strengthen national food security,” Indonesian Journal of Environmental Law and Sustainable Development, vol. 2, no. 2, pp. 169–198. doi: 10.15294/ijel.v2i2.76637.
[6] Hapsari, B. P., D. C. Nada, N. A. Putri, and M. A. H. Fikri (2024). “Analisis penerapan zero waste dalam pengelolaan sampah rumah tangga guna meningkatkan kualitas lingkungan hidup,” Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora, vol. 2, no. 6, pp. 9–24. doi: 10.572349/kultura.v2i6.1495.
[7] Hardjasoemantri, K. (2005). Hukum Tata Lingkungan, 8th ed. Yogyakarta, Indonesia: Gadjah Mada University Press.
[8] Helmi (2012). Hukum Perizinan Lingkungan Hidup. Jakarta, Indonesia: Sinar Grafika.
[9] Herlambang (2006). “Pencemaran air dan strategi penanggulangannya,” Jurnal Air Indonesia (JAI), vol. 2, no. 1, pp. 16–29.
[10] Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2022). Status Lingkungan Hidup Indonesia 2022. Jakarta, Indonesia: KLHK.
[11] Machmud,S. (2012). Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia. Yogyakarta, Indonesia: Graha Ilmu.
[12] Marganingrum, D., and R. Noviardi (2010). “Pencemaran air dan tanah di kawasan pertambangan batubara di PT. Berau Coal, Kalimantan Timur,” Riset Geologi dan Pertambangan, vol. 20, no. 1, pp. 11–20. doi: 10.14203/risetgeotam2010.v20.30.
[13] Muslimah (2015). “Dampak pencemaran tanah dan langkah pencegahan,” AGRISAMUDRA: Jurnal Penelitian, vol. 2, no. 1, pp. 11–20. doi: 10.33059/jpas.v2i1.224.
[14] Nauri, M. M. A., M. S. Aziz, M. Y. Z. Z. Pratama, U. Kamal, and M. A. H. Fikri (2024). “Strategi Penanganan Limbah Baterai Kendaraan Listrik demi Masa Depan Indonesia yang Lebih Bersih,” Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora, vol. 2, no. 5, pp. 177–194. doi: 10.572349/kultura.v2i5.1436.
[15] Niravita, A. Masyhar, Rodiyah, Suhadi, V. Chhachar, and M. A. H. Fikri (2025). “The Potential of Criminal Sanctions in Indonesia’s Spatial Planning Law from a Sustainable Development Perspective,” Indonesian Journal of Environmental Law and Sustainable Development, vol. 4, no. 2.
[16] Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
[17] Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
[18] Proyogo, J. W. (2024). “Balancing Risk and Caution: The Precautionary Principle in Indonesian Environmental Law Context,” Indonesian Journal of Environmental Law and Sustainable Development, vol. 3, no. 1.
[19] Rahmadi, T. (2018). Hukum Lingkungan di Indonesia, 2nd ed. Jakarta, Indonesia: Rajawali Pers.
[20] Rahmadi, T. (2019). Hukum Lingkungan di Indonesia. Jakarta, Indonesia: RajaGrafindo Persada.
[21] Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, 2021.
[22] Ridwan, R. “Dampak industri terhadap lingkungan dan sosial,” doi: 10.17509/gea.v7i2.1716.g1166.
[23] Rofik, M. and A. Mokhtar (2021). “Pencemaran dalam lingkungan hidup,” in Seminar Keinsinyuran 2021, pp. 102–105.
[24] Salim, A., and L. Palullungan, (2021). “The challenges of environmental law enforcement to implement SDGs in Indonesia,” International Journal of Criminology and Sociology, vol. 10, pp. 517–524. doi: 10.6000/1929-4409.2021.10.60.
[25] Setiyono and S. Yudo (2008). “Dampak pencemaran lingkungan akibat limbah industri pengolahan ikan di Muncar (Studi kasus kawasan industri pengolahan ikan di Muncar–Banyuwangi),” Jurnal Air Indonesia (JAI), vol. 4, no. 1, pp. 69–81.
[26] Soemarwoto, O. (2004). Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, 10th ed. Jakarta, Indonesia: Djambatan.
[27] Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140.
[28] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
[29] Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.
[30] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
[31] Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
[32] Warlina, L. (2004). “Pencemaran air: Sumber, dampak dan penanggulangannya,” Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor, Indonesia.
[33] Widiyanto, F., S. Yuniarno, and Kuswanto (2015). “Polusi air tanah akibat limbah industri dan limbah rumah tangga,” Jurnal Kesehatan Masyarakat (KEMAS), vol. 10, no. 2, pp. 246–254. doi: 10.15294/kemas.v10i2.3388.
[34] World Commission on Environment and Development (1987). Our Common Future. Oxford, U.K.: Oxford University Press.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmiah Multidisiplin Ilmu

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.











